Krisis Eropa dan Investasi Indonesia

Krisis Eropa dan Investasi Indonesia Pemulihan pasar finansial global yang baru saja mengalami krisis hebat akibat subprime mortgage di Amerika masih belum tuntas. Namun, dunia kembali dikejutkan oleh krisis keuangan baru yang kali ini diakibatkan oleh krisis utang di Eropa khususnya di negara Yunani, Portugal, dan Spanyol. Krisis yang semula dipandang sebelah mata ini, ternyata memberikan dampak negatif cukup luas bagi perekonomian dunia. Sejauh apakah pengaruhnya bagi Indonesia tentu perlu menjadi perhatian, terutama bagi dunia ivestasi dan keuangan.

Krisis utang di Eropa bermula dari kecerobohan Yunani dalam mengelola anggaran yang terjadi sejak beberapa tahun lalu. Negara kecil dengan jumlah penduduk sekitar 11,5 juta jiwa ini terus-menerus menerbitkan surat utang berbunga tinggi, terutama setelah Bank Central Eropa (ECB) mengendurkan persyaratan kriteria penerbitan surat utang (Quantitiy Easing).

Yunani yang memiliki Produk Domestik Bruto (PDB) hanya 350 miliar dollar AS atau sekitar 2% dari total PDB Eropa, terus membiarkan defisit anggarannya menggelembung tak terkendali melebihi batas maksimal yang ditetapkan Uni Eropa (UE), yaitu sebesar 3% dari PDB. Selama bertahun-tahun, defisit anggaran itu ditutupi pemerintah Yunani. Belakangan baru terkuak, ternyata Yunani ternyata mengalami defisit anggaran hingga 13,6% dari PDB-nya.

Pemerintah Yunani lalu menyatakan bahwa utang negara itu berpotensi gagal bayar (default). Pelaku pasar finansial global pun tersentak karena gagal bayar hutang Yunani akan berdampak pada rontoknya perbankan Eropa terutama Jerman dan Perancis sebagai pemegang terbesar surat hutang Yunani. Jelas kondisi ini memperburuk keuangan global yang masih “sakit” akibat kasus subprime mortgage di AS.

Negara yang tergabung dalam Uni Eropa (UE) kemudian bersatu mencari jalan keluar (exit strategi) mengatasi krisis defisit anggaran Yunani yang semakin mengkhawatirkan itu. Strategi ini jelas tidak bisa dijalankan sendiri mengingat digunakannya mata uang tunggal Euro yang secara langsung saling terkait dan berpotensi memberikan dampak buruk terhadap negara anggota lainnya.

Pada awalnya Jerman sebagai negara dengan perekonomian terbesar di UE keberatan untuk menalangi hutang Yunani. Namun, setelah melalui beberapa perundingan yang a lot, IMF dan UE—termasuk Jerman—akhirnya sepakat menggelontorkan dana awal sebesar 145milliar dollar AS pada awal Mei 2010. Akan tetapi, dana talangan awal itu terlihat seperti oase kecil ditengah padang pasir mengingat hutang Yunani tercatat sebesar 405 milliar dollar AS.

Melihat krisis Yunani tersebut, kekhawatiran investor global meningkat sehingga bergegas melepas aset mereka yang beresiko tinggi dan segera beralih ke aset berisiko minimal (Safe Heaven) yakni Emas dan Dollar Amerika. Kenaikan harga emaspun tak terbendung sehingga sempat menyentuh level 1.248 dollar AS per troy ounce. Sedangkan mata uang Euro tertekan dan menjadi ajang permainan para spekulan yang akhirnya semakin memperburuk keadaan.

Bank Investasi di Amerika bahkan dituding sebagai dalang yang turut memberikan andil akibat aksi spekulasi terhadap kejatuhan surat hutang yang diterbitkan oleh Yunani. Jerman sebagai negara dengan PDB terbesar (sekitar USD 4) dalam kelompok UE tampaknya mulai merasa gerah dan segera menghimbau kepada negara UE lainnya untuk melarang aksi naked short selling terhadap beberapa instrumen keuangan.

Aksi ini segera mengundang berbagai reaksi pro maupun kontra.

Saat ini semua tampaknya setuju bahwa krisis Yunani berpotensi menular ke negara Eropa dengan demikian kelompok negara UE beserta IMF kembali menyetujui untuk menggelontorkan dana hampir mencapai USD1 tn. Paket ini juga dibarengi dengan pengetatan fiskal dan rencana pemangkasan anggaran. Beberapa negara Eropa yang bertendensi memiliki problem yang sama dengan Yunani yakni Portugal, Spanyol dan Inggris segera melakukan pemangkasan gaji pegawai. Perancis mempertimbangkan kenaikan pajak guna memangkas defisit anggaran. Sementara di Amerika, hingga saat ini masih bergulat dalam proses pemulihan ekonomi, termaksud bagaimana mengatasi defisit anggaran hingga 10% dari PDB-nya. Belum lagi hutang luar negeri AS mencapai 84% dari PDB.

Negara Asia seperti Jepang juga tak lepas dari masalah yang sama. Defisit anggaran Jepang bahkan telah mencapai 200% dari PDB. Melihat hal itu, jelas dibutuhkan komitmen dan aksi bersama dari seluruh pemerintah serta bank sentral negara-negara di dunia, terutama Eropa, Jepang, dan Amerika.

Lantas, apa dampak krisis di Eropa, AS, dan Jepang diatas terhadap perekonomian Indonesia. Walaupun tidak memberikan dampak langsung, harus diakui kekhawatiran investor global terhadap krisis Eropa, AS, dan Jepang memberikan pengaruh negatif terhadap sektor keuangan Indonesia, terutama di pasar modal. Kita melihat, selama Mei 2010 arus modal yang keluar (capital outflow) dari bursa saham berlangsung secara masif. Investor asing melakukan aksi jual secara besar-besaran yang menggerus indeks harga saham dalam negeri hingga lebih jatuh lebih dari 15 % sepanjang bulan Mei ini.

Dampak lainnya yang juga mungkin terjadi, yaitu nilai ekspor barang tambang maupun manufaktur ke Eropa segera menyusut bersamaan dengan pengetatan anggaran dan anjloknya daya beli di wilayah itu. Namun, pelaku pasar keuangan di Indonesia tidak perlu bereaksi berlebihan dalam menyikapi krisis Eropa karena kondisi perekonomian Indonesia cukup stabil. Indonesia juga tercatat sebagai satu dari sedikit negara di dunia yang mampu bangkit dengan cepat setelah krisis finansial global tahun 2008 lalu.

Data menunjukkan, indikator makro dan keuangan Indonesia cukup sehat. Utang luar negeri kita memang meningkat menjadi USD180milliar. Namun, angka itu baru sekitar 30% dari PDB Indonesia, jauh lebih rendah dibanding hutang luar negeri Yunani yang mencapai 120% dari PDB-nya. Cadangan Devisa Indonesia juga cukup terjaga, yaitu sempat mencapai USD78,6milliar per April 2010, walau tergerus USD4 miliar ke posisi USD74.6 milliar pada bulan Mei yang digunakan untuk pembayaran hutang serta intervensi nilai rupiah agar tidak jatuh.

Indikator lainnya adalah asumsi pertumbuhan 2010 yang baru di revisi menjadi 5%. IMF bahkan menaikan target pertumbuhan Indonesia sebesar 6% dari sebelumnya 5,8%. Kami juga melihat bahwa Surat Utang Negara tidak hanya mengandalkan pasar global, tetapi juga pasar domestik yang cukup kuat.

Saat ini, Indonesia seharusnya bisa diuntungkan. Ketika investasi dinegara lain menjadi sangat beresiko, Investasi di Indonesia menawarkan timbal hasil (return) yang tinggi. Namun harus juga dicermati sentimen negatif dari dalam negeri yang kemungkinan akan dirilis pada pertengahan bulan Juni ini seperti rencana pencabutan subsidi BBM, kenaikan tarif dasar listrik, kenaikan harga bahan bakar gas serta rencana kenaikan pajak yang kemungkinan akan mendorong laju Inflasi selain faktor dari biaya pendidikan tahun ajaran baru.

Repost tulisan yg dimuat di Sindo 9 Juni 2010

Gallery | This entry was posted in Investasi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s