Stop Kemacetan dari Sekarang

Kenapa perusahaan otomotif tidak wajib bertanggung jawab terhadap kemacetan di jalanan ?

Geli sendiri rasanya membaca beberapa alternative yang ditawarkan oleh para pejabat, pengamat maupun pengguna jalan  dari mulai yang menuai kontroversi sehingga solusi yang seperti asal bicara.

Rencana  pengurangan jumlah kendaraan roda dua yang beredar di jalanan karena dianggap sebagai sumber kemacetan oleh beberapa pejabat, tampak jelas menunjukan arogansi dari pejabat tersebut.  Dimana logikanya sebuah kendaraan dengan penunpang maksimal 2 orang  bisa dianggap lebih menghabiskan lahan jalanan dan bahan bakar yang digunakan ketimbang sebuah mobil dinas mewah dengan cc.yang besar tengah melaju di jalan dengan hanya diisi satu dua orang penumpang saja, padahal kapasitas penumpang yang mencapai delapan orang bisa di bilang lebih hemat dan irit.

Rencana penerapan larangan masuk untuk kendaraan pribadi ke beberapa ruas jalan utama juga terbukti hanya menambah lapangan kerja baru sebagai Joki Three in One. Begitu pula dengan rencana pemindahan ibukota  Negara atau pusat pemerintahan kekotalain terkesan terlalu buru buru diambil.

Pemerintah dan pertamina terus meneriakan beban subsidi bahan bakar yang harus disediakan, tingkat konsumsi bahan baker meningkat dan kerugian yang sangat besar terus terjadi dari hari kehari tanpa adanya solusi yang mumpuni.

Sebenarnya, kita sebaiknya melihat akar dari masalah ini,  kemacetan  ini tidak terjadi secara mendadak perlu proses dan penyebab terjadinya hal ini yang tidak diantisipasi dari awal.

Akar masalah utama adalah tidak adanya sarana transportasi yang nyaman dan memadai, sarana infrastruktur seperti jalan dan jembatan yang tidak sebanding dengan jumlah kendaraan, jumlah penduduk yang terus bertambah, serta minimmnya kesadaran dari pejabat pemerintah untuk mengutamakan kepentingan publik diatas kepentingan pribadi..

Maka seperti layaknya insting manusia disaat terjepit, maka mereka akan mencari jalan keluar semaksimal mungkin. Awalnya memang sebagian masyarakat masih menggunakan kendaraan pribadi roda empat namun seiring dengan naiknya harga kebutuhan pokok dan kemacetan yang terus melanda maka semua berduyun duyun beralih kekendaraan roda dua yang lebih hemt dan fleksible.

Sebenarnya bagaimana cara mengurai benang kusut ini ?,

Cara tercepat menurut hemat saya adalah memaksa perusahaan Otomotif untuk membantu mengurai masalah ini, toh selama ini mereka yang paling menikmati manisnya penjualan kendaraan bermotor.

Masing-masing Gedung pencakar langit,  pihak management gedung diwajibkan untuk  bekerjasama dengan perusahaan otomotif dalam menyediakan beberapa Bus antar jemput karyawan yang nyaman dan tepat waktu dengan route dan jadwal tertentu, seperti yang dilakukan selama ini terhadap karyawan beberapa depertemen milik pemerintah. Bus ini juga memungkinkan untuk dinaiki oleh non karyawan gedung tersebut selama masih memungkinkan. Dengan begitu pihak gedung juga telah menghemat berapa lahan parkir yang dibutuhkan untuk menampung begitu banyak karyawan kantor tersebut.

Bayangkan berapa banyak penghematan yang dilakukan bila hal ini bisa diterapkan pada sebagian besar gedung pencakar langit di Jakarta.

Hal kedua adalah melanjutkan fokus terhadap sarana publik TransJakarta yang saat ini penanganannya sangat menyedihkan, pemerintah bisa mengalihkan subsidi BBM untuk mengelolaan, penambahan dan perawatan TransJakarta, jembatan penyeberangan yang dibangun terlalu panjang njelimet tidak praktis membuat orang enggan naik Transjakarta untuk jarak pendek. Sangatlah Mubazir membuat jembatan puanjang namun tak seorangpun sudi menggunakannya.

Hal ketiga, perhatikan juga letak tata kota yang berantakan, harus di cermati juga beberapa simpul kemacetan yang terjadi karena kurang tegasnya aparat pemerintah dalam menindak kendaraan umum yang ngetem sembarangan, pedagang kakilima yang berdagang di hampir sebagian badan jalan, serta kerusakan parah di jalanan yang membuat jalan tidak bisa dilalui dengan maksimal.

Selain itu segera cermati dan bongkar pilar-pilar monorail yang teronggok yang hanya memperburuk keadaan hasil dari keputusan bodoh yang terlalu tergesa gesa.

Bila keadaan tersebut bisa dilaksanakan, maka saya yakin kemacetan sehari hari yang sangat menyiksa masyarakat jakarta dan sekitarnya ini akan terselesaikan.

Yang paling utama dari ini semua adalah adanya NIAT yang KUAT untuk Menyelesaikan Masalah.

Gallery | This entry was posted in Go Green. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s